Melbourne - Jarak tidak pernah menjadi penghalang untuk peduli. NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand bersama komunitas Muslim Indonesia di Australia dan Selandia Baru berhasil menghimpun zakat lebih dari AUD 12600 atau setara sekitar Rp150 an juta, sebagai bentuk nyata kepedulian diaspora terhadap kondisi kemanusiaan di Indonesia (1 April 2026).
Penggalangan dana ini melibatkan berbagai komunitas, seperti KAIFA, IMCV, KIA, MZT, DDM, IISB, dan AIM-ACT. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa solidaritas diaspora Indonesia terus tumbuh dan bergerak lintas batas.
Dana zakat kemudian disalurkan melalui mitra strategis di Indonesia, di antaranya jaringan Gusdurian, HA Pecinta Yatim, Ansor Banser Sorong Papua, serta YAKESMA Aceh untuk respons kebencanaan. Penyaluran ini difokuskan pada wilayah Papua Barat Daya dan Aceh yang menghadapi tantangan sosial dan bencana kemanusiaan. Selain itu, sedekah dan zakat mal juga dialokasikan untuk memberikan bantuan Pendidikan untuk 10 pelajar yang membutuhkan.
Di Papua, zakat tidak sekadar hadir sebagai bantuan sosial, tetapi juga menjadi jembatan kemanusiaan di tengah dinamika konflik sosial. Melalui pendekatan yang inklusif, penyaluran zakat diarahkan untuk memperkuat solidaritas, membangun kepercayaan, serta membuka ruang-ruang damai di tengah masyarakat.
Tahun ini, distribusi zakat menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 190 paket bantuan berhasil disalurkan, menjangkau wilayah Sorong hingga pulau-pulau di sekitarnya. Program ini juga menyasar Kabupaten Tambrauw, salah satu wilayah terdampak konflik, di mana banyak warga, terutama para mualaf yang mengungsi ke Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan.
Perwakilan NU di Sorong sebagai mitra distribusi menyampaikan bahwa zakat memiliki peran yang lebih luas dari sekadar bantuan materi. “Di Papua, zakat bukan hanya bantuan sosial melainkan juga bagian dari upaya kemanusiaan untuk meredam konflik, membangun kepercayaan, dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat,” ujarnya.
“Alhamdulillah, tahun ini kami bisa menyalurkan zakat dua kali lebih banyak, sekitar 190 paket, dari Sorong sampai pulau-pulau sekitar. Ini menjadi kebahagiaan sekaligus amanah bagi kami,” lanjutnya.
Lebih jauh, zakat yang disalurkan diharapkan mampu menjembatani kesenjangan sosial antara masyarakat asli Papua dan para pendatang yang secara ekonomi relatif lebih mapan. Dukungan dari diaspora Muslim di Australia dan Selandia Baru melalui NU Care-LAZISNU bersama mitra lokal menjadi penguat ukhuwah Islamiyah sekaligus semangat keindonesiaan.
Selain bantuan konsumtif, zakat juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di wilayah pesisir, khususnya komunitas Suku Kokoda di Kilo 8 dan Maibo, bantuan disalurkan dalam bentuk 100 alat tangkap kepiting (bubu), beserta modal awal berupa umpan dan tali.
“Selama ini alat tangkap sangat terbatas dan digunakan bergantian. Dengan adanya bantuan ini, harapannya masyarakat bisa meningkatkan hasil tangkapan, bahkan ke depan dapat mengembangkan penangkaran kepiting agar lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan zakat yang lebih produktif dan memiliki dampak berkelanjutan. “Kami berharap zakat ini tidak hanya membantu sesaat, tetapi juga bisa meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dan menjadi bagian dari upaya menciptakan perdamaian di Papua,” tutupnya.
Sementara itu, di Aceh, zakat kembali hadir sebagai bentuk solidaritas nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir. Penyaluran bantuan difokuskan untuk menjangkau kelompok paling rentan, mulai dari keluarga prasejahtera, anak-anak pesantren, hingga warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan akibat bencana.
Perwakilan YAKESMA selaku mitra penyaluran menyampaikan apresiasi atas dukungan dari diaspora Muslim di Australia dan Selandia Baru. “Kami mengucapkan terimakasih atas zakat dari diaspora Muslim Australia dan New Zealand melalui NU Care-LAZISNU bersama mitra. Kami berfokus menyalurkan bantuan ke area-area terdampak banjir, bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Pada tahap pertama, penyaluran zakat difokuskan di Kabupaten Pidie Jaya, tepatnya di Desa Meulasi Raya, salah satu wilayah dengan dampak paling parah. Hingga saat ini, sebagian warga masih belum dapat kembali ke rumah karena kondisi yang tertimbun tanah dan mengalami kerusakan berat. Banyak dari mereka masih bertahan di tenda dan hunian sementara.
“Di Pidie Jaya, khususnya Desa Meulasi Raya, banyak warga masih tinggal di tenda karena rumah mereka rusak parah dan tertimbun. Mereka juga belum bisa kembali bekerja, sehingga kondisi ekonominya sangat terdampak,” jelasnya.
Tahap kedua penyaluran dilanjutkan ke wilayah Aceh Utara, yang juga mengalami dampak luas akibat banjir dan tanah longsor. Sejumlah desa dan kecamatan terdampak, terutama pada sektor pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.
“Di Aceh Utara, dampaknya cukup luas. Banyak lahan sawah belum bisa beroperasi secara optimal. Hal ini tentu menghambat pemulihan ekonomi warga,” tambahnya.
Melalui penyaluran zakat ini, diharapkan bantuan tidak hanya meringankan kebutuhan darurat, tetapi juga membantu masyarakat bangkit secara bertahap dan kembali menjalani kehidupan yang lebih stabil.
“Kami berharap zakat ini bisa menjadi penguat bagi masyarakat untuk bangkit, tidak hanya dari sisi kebutuhan harian, tetapi juga dalam memulihkan kondisi ekonomi mereka pascabencana,” tutupnya.
Ketua PCINU Australia–New Zealand menyampaikan bahwa inisiatif ini menjadi pengingat bahwa zakat memiliki peran yang jauh melampaui bantuan sesaat.
“Zakat adalah jembatan yang menghubungkan kepedulian dengan kebutuhan, serta harapan dengan masa depan. Dari sana, kita bisa melihat bagaimana solidaritas lintas wilayah bahkan lintas negara dapat menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua NU Care-LAZISNU Australia–New Zealand menegaskan komitmen untuk terus mengembangkan peran lembaga ke arah yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Ke depan, kami sedang mengupayakan penguatan kelembagaan agar lebih holistik, tidak hanya berfokus pada penghimpunan zakat dan qurban, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan umat yang lebih beragam, mulai dari pendidikan, bantuan kesehatan, hingga dukungan sosial lainnya, baik untuk masyarakat Muslim di Indonesia maupun di Australia,” tuturnya.
Ia berharap langkah ini dapat memperkuat peran NU Care-LAZISNU sebagai lembaga filantropi yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada dampak jangka panjang bagi kesejahteraan umat.
(Kontributor: Arian Agung Prasetiyawan)